Saturday, May 1, 2010

Penjual Semangat

Text: Hanif
Foto: Google Image
___________________

Untuk kesekian kalinya tulisanku berawal dari sebuah perjalanan bin travelling. Siang itu entah tanggal berapa aku membuat janji dengan seorang kawan dari Indonesia di daerah Ampang. Rencanaku siang itu mau langsung pulang setelah bertemu, tapi berhubung menghormati ajakan beliau aku ikut saja saat diajak ke warung dulu, “yang enak kita minum teh tarik dulu”, ajaknya. Aku oke saja sampai setelah tahu kalau minum tehnya di daerah masjid jame’, bakalan lama dan terlambat masuk kampus pikirku, sore ini aku masih ada kelas, setengah jam lagi tepatnya. Sampai masjid jami’ kita langsung menuju kedai sasaran dan meneriakkan “ teh tarik bang!”, teriak kawanku “DUA”,tak tambahi. Obrolan dimulai seperti biasa sampai tidak terasa sruputan teh yang terakhir habis, maka itu waktuku untuk pergi. Segera setelah pamit aku jalan ke arah stasiun lrt.

Nah, pas perjalanan ke lrt aku berjumpa seseorang di atas kursi roda, dengan kondisinya yang lemah, aku tebak dia terkena penyakit polio. Wajahnya yang murung dan melas ditambah dengan kondisi fisiknya yang sebegitu lemah memunculkan gambaran mahluk yang membutuhkan bantuan di benakku. Nampak dia menjual sesuatu semacam kerupuk kecil- kecil. Tanpa banyak berpikir aku kasih dia duit seringgit tanpa meminta barang yang dia jual. Setelah uang aku sodorkan, aku langsung meninggalkannya, aku berniat amal saja bukan untuk membeli, tapi Nampak olehku kalau dia menjulurkan dagangannya, sebungkus kerupuk, tapi aku bilang tidak perlu bang, buat abang saja. Walhasil setelah aku tinggal dan beri uang, wajahnya yang tadi melas dan murung sekarang berubah menjadi jauh lebih melas dan sedih dari sebelumya. Dia menggapaiku dengan bungkusan kerupuknya, dia bilang tolong ambil kerupuknya. Aku yang sudah berniat cuman memberi jadi tidak menghiraukan permintaannya meskipun wajahnya kini menjadi sangat lebih melas dari sebelumnya.

 Aku sampai di stasiun dan menuju ke arah kampus. Di perjalanan aku jadi teringat dengan orang itu, wajahnya yang semakin melas setelah aku beri uang terus hinggap di kelopak mata. “apa yang dia mau ya?”, pikirku. Sampai aku berpikir kalau mungkin aku telah menabraknya tidak sengaja atau mungkin tidak terasa aku telah injak kakinya, tapi rasanya kok tidak ya, yang pasti kupikir karena aku tidak menerima kerupuk yang disodorkan tadi. Niatnya adalah berdagang bukan untuk meminta. semangatnya yang tinggi untuk berdagang tidak cukup hanya diberi uang tapi harus juga barangya bermanfaat dan dimanfaatkan orang lain itulah tujuan dia. Mungkin saya ‘telmi’ kenapa tidak kupikir dari tadi untuk mengambil saja kerupuknya. Dan akupun berjanji kalau ketemu dengan orang itu tadi aku tidak akan memberinya uang tetapi membeli dagangannya, benar- benar membeli. membayar dan mengambil kerupuknya.

Beberapa minggu setelah itu, aku berada di tempat yang sama untuk bertemu seorang teman lain, ketika akan pulang aku surprised dengan kehadiran penjual kerupuk yang aku tunggu- tunggu. Dengan pede aku datangi dia dan tanpa basa- basi aku beli kerupuknya, “satu bungkus bang!”. Wajahnya senang bukan main setelah aku ambil kerupuknya, aku merasa janjiku terpenuhi untuk membeli dagangannya. Aku masukkan bungkusan ke dalam tas, tidak berminat sama sekali untuk mencicipi apalagi menghabiskannya, jadi aku simpan saja di tas dan kubawa pulang. Sebelumya aku terburu- buru ke kampus, udah telat setengah jam dan posisi masih di masjid jami’, 20 menit dari kampus. Alhamdulillah sempet juga hadir di kampus.  Setelah urusan di kampus selesai, aku langsung balik ke rumah kos dan kerupuknya, terlupakan.

Sore menjelang maghrib aku sudah ada di rumah dengan tingkat kecapekan dan kelaparan luar biasa, seperti biasa masak nasi dan persiapin lauk khas anak kos. Sambil menunggu nasi, perutku sudah bernyanyi merdu minta diisi, gak tahan lagi buat nunggu nasi mateng. Ada sih kerupuk yang tadi, tapi agak kurang minat waktu mau makannya, terpikir kebersihannya atau bumbunya, msg-nya, atau minyak yang dipakai buat goreng kerupuknya mungkin sisa- sisa. Tapi dicoba kan gak ada salahnya juga. Aku ambil bungkusan kerupuknya, sobek plastik setengah ons yang membungkusnya, dan kress,,,, kress, lagi kress,,,dan lagi dan lagi sampai hampir separuh plastik aku habiskan. Luar Biasa!! Kerupuknya luar biasa. Rasanya muantep, gak ku sangka. Kalau kalian ingat snack TARO, nah semacam itu rasanya, persis, cuman beda bungkus aja. Aku masih gak peduli kress,, kress,,, sampai tersisa seperempat plastik aku baru berhenti. Aku berpikir telah salah, kenapa? karena belinya cuman satu, dengan harga segitu abang on-the-wheel tadi mempunyai produk kerupuk dengan citarasa tinggi. 

sebenernya Tulisan ini sudah agak lama selesai tapi belum sempat posting, membaca tulisanku sendiri, aku ingat tullisan alwi alatas, seorang  blogger dan penulis buku, di blognya yang dia beri judul Membeli Semangat. Ketika kita membeli sesuatu dari seseorang yang menawarkan barangnya dengan penuh semangat dan harapan, sebenarnya kita bukan telah membeli barangnya tetapi membeli semangatnya yang luar biasa.


Pedagang semangat


Penjual semangat dari lain negeri

Saturday, April 17, 2010

Easy but not simple

Photo: Google image
Text: Hanif
________________

Text: You are in English Area, speak at least 30%

It was long time since the last time I wrote in English. I feel that I have to recharge it in this very time. For me, today, I keep on learning, improving and trying to spit the words out of my mouth in English. It is very good to improve language from the side you love. For me I like to speak American English, it is a bit premature to speak in the way American used to speak, American slang. But I tell you what, I really like to, it sounds natural and releases all what you’ve got. Words such as “ get the hell out, “you’re the top dog”, “holy crap”, or as simple as “fuck you” is now becoming common among those who just started learning English for a while. It doesn’t make them looks good in English, but it’ll give them something like from-no-where spirit to keep on speaking the language, and of course, will make their English much more better.

Most Indonesian today, and as I was too, is still thinking that English is something luxurious or something expensive, for this one because taking course in the city, say it my city, will dry your pocket off, and of course most people can’t join in. With all of those limitations don’t mean that we have to stop learning, there is a lot of ways to improve our English. One solution came into our society, is about cheap English course but resulting in English level as high as those who are taking course in ‘ 5-stars’ English courses or so-called English First, British Council and many others. Those institutions don’t bring you any easiness at all, but they’ll keep you on moving slowly to reach the level you wanted to be. Why?

Of course, it’s all about business! If you could easily pass within three or four months (something that really happens in Pare, Kediri), they will be collapsed and no more. They need you to keep on feeding them monthly with high cost that mid-lower consumer will not look at or even think about! It is such crazy if you had to pay 500 thousand rupiah (RM200) monthly for only one level of their course while with that amount of money, in Pare, East Jawa, you can join 4 different courses for a month! say it TOEFL, speaking, grammar, pronunciation plus one month renting room, imagine that! Beside those factors, Pare courses are naturally grown by indigenous villager of Tulung Rejo village.

With all the hospitality of villagers, the nature, their strong values of live, villager-level of living cost and the most important is area where you’ll find people with the same aim and same goal, learning English. It will do you any good toward your English proficiency process besides, you will also help the indigenous to strive, compete and live. Keep up friends!


Main gate Tulung Rejo village


Village main Road


The town


Studying hours


How class conducts


Main Symbol of Garuda


One of many courses


Beautiful An-noor Tulung Rejo masjid





Sunday, March 14, 2010

Mahluk paling keras kepala

Foto: Google Image
Teks: Hanif
____________________


Dalam perenungan harian, entah kenapa akhir- akhir ini yang sering kupikirkan adalah pertanyaan mahluk apa yang paling keras kepala. Aku sudah telusuri satu- satu cipataanNYA yang lalu lalang di hadapanku secara kasat mata, manusia. Manusia itu mahluk hidup yang termasuk rewel diantara cipatanNYA yang lain, selain karena mereka diberi akal untuk berpikir, manusia juga dianugerahi nafsu. Kalau berbicara nafsu maka akan banyak sekali macamnya, tapi yang aku anggap paling dominan adalah nafsu tidak pernah puas untuk memiliki dan mengumpulkan sesuatu yang diinginkan, alamiah. Dengan kriteria itu maka nominasi pertama tentang mahluk paling keras kepala adalah manusia. 

Setelah itu pikiranku kembali menerawang, siapakah saingan manusia sebagai mahluk paling keras kepala, setelah ku pikir- pikir maka yang muncul di benakku adalah binatang. Mulai dari binatang bersel satu, binatang carnivora, binatang berdarah panas, binatang berkaki empat sampai binatang tidak berkaki dan juga hemaprodit muncul dalam daftar di otakku, menemani lamunan. Tapi ada asumsi lain yang menggugurkan perkiraanku tentang binatang sebagai mahluk keras kepala, yaitu binatang tidak memiliki nafsu untuk mengumpulkan keperluannya secara berlebihan. Binatang dengan bangsa, kelas dan spesies apapun sudah diseting untuk mencari dan mengumpulkan sesuatu sesuai kebutuhan, coba ingat- ingat apa pernah ada singa yang mengumpulkan puluhan ekor rusa demi memenuhi kebutuhan makannya untuk sebulan ke depan? Haha, aku rasa gak ada dan gak akan pernah ada. Berarti binatang tidak bisa aku sebut sebagai mahluk keras kepala.

Terus saja pikiranku sebagai manusia, nominasi mahluk keras kepala, ingin terus mencari daftar mahluk paling keras kepala. Untuk kesekian kalinya kupikir, muncullah benda keras alias batu sebagai salah satu mahluk paling keras kepala, mengingat, untuk sesorang yang keras kepala, kita punya istilah ‘Dasar kepala batu!’ atau ‘Ndase atos koyo watu!’ atau yang lain lagi, masih banyak karena kita punya ribuan bahasa daerah. Tapi yang jelas batu telah diasosiasikan sebagai sosok keras kepala. Tapi apa benar batu itu mahluk yang keras kepala? Kalau itu pertanyaanya maka jawabannya adalah tidak. Oh mengapa, karena batu pun jika ia ditempa secara berulang- ulang atau jika ia terkena tetesan air hujan selama bertahun- tahun maka ia pun berubah bentuk atau ia akan membentuk lekukan jika terkena tetesan air hujan selama bertahun- tahun. Jadi lebih tepatnya jika batu diasosiasikan dengan mahluk paling istiqomah atau tekun dalam menempuh tujuan. Dengan alasan itu sudah cukup untuk menyingkirkan mahluk bernama batu dari daftarku tentang mahluk paling keras kepala. Capek juga ternyata mencari daftar mahluk persisten alias keras kepala ini, sampai aku berpikir kalau ‘capek’ sendiri adalah mahluk paling keras kepala. Tapi segera ‘capek’ tereliminasi dari daftarku mengingat kita punya istilah ‘sudah tidak capek lagi’ yang berarti capek itu bisa hilang dan itu bukanlah persisten atau keras kepala, ‘Endas atos’.

Semakin lama aku berpikir waktuku semakin berkurang. Meskipun hanya hitungan menit, waktuku meguap begitu saja. Semakin aku beradu ‘jotos’ dengan waktu semakin terasa ‘beliau’ bertambah meskipun konstan perlahan tapi pasti. Sekali lagi entah untuk apa tujuan aku membuat daftar ini, aku cari lagi mahluk- mahluk dengan persistensi paling tinggi. Semenit, dua menit, semenit dua……………..tidak dapat. Semakin banyak waktuku yang habis hanya untuk menyusun dan mendaftar mahluk yang gak jelas ini sampai secercah harapan akhirnya datang. Sedari tadi aku menulis, sesuatu terus saja membuntutiku. Waktu aku berhenti, ia tetap jalan, perlahan. Kelihatan sekali kalau ia menjengkelkan, dan keras kepala, dan satu lagi, ia tidak terhentikan. Tidak peduli gimana kondisiku, lagi happy, lagi emosi, lagi gak ngapa- ngapain, atau lagi menanti, dia tetap berjalan.

 Luar biasa persisten mahluk ini. Apakah nama mahluk itu? Ya kamu benar sob, mahluk ini biasa kita sebut dengan waktu, time atau wѐktu (dalam boso jowo medok dan kental). Waktu tidak mempunyai titik henti dalam perjalanannya, sekalipun dalam alam akhirat waktu akan terus berdetak mengiringi setiap aktifitas yang terjadi. Ya akhirnya pencarianku terjawab dan ‘waktu’ aku tempatkan di urutan teratas dan satu- satunya dalam daftar mahluk paling keras kepala yang aku punya, jauh mengungguli manusia dalam adu keras- kerasan kepala atau ‘atos- atosan Endas’. Selain keras kepala waktu juga sangat berbahaya, ada pepatah arab ‘ Waktu ibarat pedang, kalau kalian tidak memotongnya, maka kalianlah yang terpotong’ tentu maksudnya kita harus strategis dalam mengatur waktu, berhubung dialah musuh kita yang paling persisten.





Wednesday, March 3, 2010

Kuliner dadakan

Foto &  Text by Hanif
_______________________


Selamat datang di myblog, tempat tongkrongan ( yang ini tongkrongan online). Ini postingan ke sekian di blog ini, hitung- hitung buat nambah pengalaman nulis. Awalnya gak ada niat mau nulis tentang sesuatu yang khusus, soalnya lagi kurang mood nulis, ujian sudah dekat.



Postingan ini tentang kuliner. Alasan kenapa kuliner sebagai postingan kali ini, adalah karena makan itu enak(??). Sebenarnya gak ada alasan, cuma kebetulan hari sabtu 16 januari kemarin aku lagi mampir ke daerah Pudu, ada assignment yang menuntut membeli pernak- pernik setrum alias elektro di pasar Pudu. Nah, cerita berawal setelah dari Pudu.



Pernak- pernik yang aku cari sudah dapat semua dan sekarang tinggal cabut, langsung saja aku cegat lrt train di stesen Pudu. Di atas tren seingatku masih jam 6 sore dan aku pikir kalau langsung pulang, hari itu akan habis begitu saja aku jadi berpikir untuk pindah haluan. Oh ya, aku pernah denger di Sungai Besi ada pasar Indonesia setiap sabtu malam dan jual barang khas Indonesia, langsung saja detik itu juga aku putuskan ganti haluan ke sungai Besi. Dengan kelajuan 50 knot, Sekitar pukul 6.20 aku


sampai di Sungai Besi, hujannya luar biasa deres waktu itu. Tapi Itu semua gak bisa menggembosi semangatku untuk menuju pasar malam, demi satu hal. Makan.

Dari stesen aku langsung menuju crossing bridge alias jembatan penyebrangan. Jalanan di bawahku ramai banget, keliatannya orang- orang mau pulang kampong weekend ini (bagi yang kampungnya gak jauh- jauh amat). Dari atas bridge itu juga sudak tampak deretan tenda- tenda pasar malam, dan wuuush.. hawa Indonesia lewat depanku rasanya. Mau langsung nyelonong tapi masih hujan deres, kalau mau nekad bisa aja tapi sampai sana pasti ‘mablul jami’an’ alias basah kuyup. Tapi, berhubung ini berkenaan masalah perut, ‘mablul jami’an’ sudah tidak terpikirkan, aku pikir setelah turun jembatan kan masih bisa merepet (berjalan pelan dan mepet) ke kedai yang ada di bawah. Yup, usaha merepet berjalan mulus, gak jauh dari situ sudah keliatan deretan tenda orange ( kenapa bukan tenda biru ya?) dan aroma makanan yang semerbak berebutan masuk lubang hidung untuk menggoda saraf sensorik, yang kemudian direspon oleh saraf motorik yang menggerakkanku ke arah bau yang terdeteksi. Ternyata itu bau sate ayam. Entah kenapa bau sate ayam dulu yang tedeteksi, mungkin karena jarang makan sate, atau mungkin karena demam sate, gak tau lah yang pasti karena asap sate yang sangat brutal dan extreme itu bukan saja mengganggu indra penciumanku, tapi juga indra penglihatanku, asapnya ngebul gak terkontrol. Ooh pantesan.

Setelah diganggu bau sate atau lebih tepatnya asap sate, aku tersadar kembali, perjalanan masih panjang, tenda orange itu masih terlihat sepanjang 300 meter, kalau di meter pertama aku sudah tergoda aktivitas makan, gimana nanti di meter ke 300, mungkin sudah gak bisa berdiri kekenyangan kali ya?. Oke confirmed, carry on the tour. Sepanjang perjalanan kejadian di awal cerita sering terulang, aroma makanan yang menggelitik saraf, untungnya masih bisa tertahankan. Ada satu aroma yang terdeteksi mengingatkanku ke kampung halaman, aroma putu bambu. Kalian pasti tahu itu, makanan dari adonan kelapa dicampur gula merah dan dikukus dalam silinder bamboo beradius 1cm yang imut dan pas sekali dimakan waktu sore apalagi ditemani secangkir teh panas. Sempurna.

Tapi rencanaku mau makan di rumah, jadi gak mungkin kalau beli putu bambu, nyampe rumah pasti dingin dan gak nikmat lagi. Terus saja aku telusuri meter demi meter deretan tenda orange, banyak hal- hal menarik yang sebenernya pingin aku beli, tapi berhubung prinsip mendahulukan yang diperlukan bukan yang diinginkan jadinya hasrat untuk membeli itu lenyap begitu saja. Makanan khas Malaysia dari ujung Kedah sampai ujung Johor Bahru semua ada, yang paling aku tau tentunya Laksa khas Kelantan. Aku pernah ikut gotong royong masak di surau deket tempat kosku dan kebetulan aku bagian buat Laksa meskipun hasilnya saat itu lumayan. Lumayan runyam.

Selain makanan, ternyata pasar malam itu juga menyediakan deretan panjang tenda yang menjual pakaian, ada pakaian resmi dan juga pakaian olah raga. Lumayan untuk harganya, celana training bertuliskan Nike, adidas dkk dijual seharga RM15.
Fiuh....capek juga ternyata jalan terus, setelah deretan pakaian itu aku putuskan untuk balik ke tenda makanan. Kedai pertama yang jadi korbanku ternyata jualan Kue. Lumayan harganya 1RM dapet tiga biji, akhirnya aku beli aja agak banyak buat dibawa ke Endah villa. Lanjut lagi, setelah itu aku hampiri kedai yang jual mangkuk terbalik. Entah jual apa itu, deretan mangkuk terbalik dipanaskan di atas kompor, aku baru faham setelah lirik tulisannya, Putu Perak. Namanya wisata kuliner aku harus coba minimal satu, tapi berhubung gak mungkin cuman beli satu, akhirnya aku beli beberapa biji. Lanjut lagi, tengok kanan- kiri di deretan tenda selanjutnya ada daftar menu, nasi goreng udang 2rm, kwetiau kerang 2 rm diracik oleh D’Maju Zamzally. Untuk ukuran Kuala lumpur, harga itu gak mahal- mahal amat, jadi aku langsung aja eksekusi nasi goreng udang, dibungkus.

Gak terasa hari sudah hampir gelap, maghrib masih 15 menit lagi. Berhubung kerongkongan sudah kering, aku mampir ke sebuah kedai dan order minum seperti biasa, “teh tarik, makcik!”. Sambil nunggu teh pesenan, aku buka bungkusan nasgor tadi, porsi lumayan besar dengan harga 2 rm, sangat dianjurkan untuk temen- temen. Tehku datang, sejurus mau aku santap nasgornya tapi kok rasanya kurang enak kalau makan sendirian. Kaya orang ilang. Tengok kanan kiri lagi, ada bapak- bapak, juga lagi sendirian, aku samperin aja buat temen ngobrol. Sambil makan, aku tanyakan apa memang rutin bapak ini ke pasar malem sini, dan beliau cerita kalau hampir setiap minggu dateng ke pasar ini. Yang dicari cuman satu makanan, namanya nasi Dagang khas Terengganu. Aku jadi penasaran sama hal yang bisa buat orang dateng tiap minggu untuk sekedar beli nasi bernama Dagang. 

Tapi apa dikata, hari sudah gelap dan adzan maghrib berkumandang, aku akhiri obrolan dengan pakcik tadi, perjumpaan yang aneh. Gimana gak aneh perjumapaan diakhiri dengan saling berkenalan, biasanya diawal. “Nama saya Husain”, kata pakcik. “sampai jumpa lagi pakcik!”, kalimat terkahirku. Setelah itu aku ke mesjid di sekitar pasar itu, shalat maghrib dan go home.


Putu Perak






Laksa





Spending:
- Kue 12 biji : RM 4
- NASGOR udang : RM 2
- Teh tarik : Gratis (dibayarin pakcik)
Untuk dicoba : Nasi Dagang


Friday, February 19, 2010

Berita dari Semenanjung

Foto: Bima Wicak Prawiro
Teks: Hanif
____________________________

“Assalaamua’laikum warahmatullahi wabarakatuh”, sapa Duta besar Indonesia kepada hadirin di ruang seminar. Alhamdulillah pikirku, kita datang ontime. Ruangan saat itu dipenuhi sekitar 500 peserta seminar dari berbagai perwakilan universitas di Malaysia. UCTI, MMU, UKM, UM, UUM adalah sebagian dari universitas yang hadir. Kami berempat, aku, Cumba, Bima dan Alfi duduk sederet di bangku paling buncit. Di podium, DUBES RI untuk Malaysia, Da’I Bachtiar, sedang memberi kata sambutan. Di hadapan beliau terjejer rapi tokoh- tokoh sejarah Indonesia dan Malaysia, mereka adalah Tun Mahathir Muhammad, mantan perdana menteri Malaysia yang penuh dengan catatan mengesankan dalam pembangunan Malaysia. Tokoh selanjutnya Dr. Nasir Tamara, beliau pernah belajar di 4 negara berbeda di universitas terbaik yang dimiliki Negara tersebut, seperti yang beliau sebutkan setelah lulus dari UI  jurusan ilmu politik beliau melanjutkan studi ke perancis di Sorbonne university, setelah itu di Amerika,

Tun Mahathir Muhammad, mantan PM Malaysia

Da'i Bachtiar, Dubes Indonesia untuk Malaysia


Da'i Bachtiar beserta Narasumber dan PPI Malaysia


 
Dr. Nasir Tamara


juga di universitas terbaiknya, Harvard university. Di sana beliau sempat bekerja bersama pakar ilmu sosial Samuel Huntington. Setelah selesai di Amerika beliau melanjutkan studi di inggris, juga di universitas terbaiknya, Oxford university. Pengalaman yang paling beliau ingat adalah ketika terbang satu pesawat dengan tokoh revolusi Iran, Ayatollah Khomeini, pada tahun 1989, dalam penerbangan menuju iran, kembalinya Ayatollah saat itu adalah untuk menggulingkan kekuasaan Shah reza Pahlevi, dan Dr.Nasir menjadi saksi ketika Ayatollah turun dari pesawat yang menandakan saat itu juga kekuasaan iran jatuh ke tangan Ayatollah, didukung oleh hampir seluruh rakyat Iran yang saat itu turun ke jalan.

Tokoh kita selanjutnya adalah Dr4. Ken Kawan Soetanto, beliau menggondol 4 gelar doktor yang semuanya beliau peroleh dari jepang. Saat ini beliau menjabat sebagai dekan universitas Waseda, universitas swasta yang karena peran beliau, menjadi sangat terkenal di jepang. Waseda yang saat beliau memulai karir hanyalah kampus berisi anak- anak buangan tanpa semangat belajar. Namun, dengan cara beliau menyentuh titik sadar mereka, kumpulan anak terbuang universitas Waseda menjadi mahasiswa cemerlang di bidangnya. Bukan hanya universitas Waseda yang menerapkan cara beliau menyentuh titik sadar pelajar, tapi hampir seluruh jepang menerapkan cara beliau, sehingga di jepang sejak tahun 1993 dikenal luas ‘Soetanto Effect’ yaitu menyentuh titik sadar pelajar sehingga dapat mencapai puncak kecemerlangan mereka. Dr. Ken juga satu- satunya non-jepang yang terpilih menjadi penentu kebijakan makro ekonomi di bawah departemen ekonomi jepang.

Setelah Dubes Da’I Bachtiar selesai membuka acara, kini giliran Tun Mahathir menyampaikan pemikirannya. Tun Mahathir mengungkapkan persamaan- persamaan antara Indonesia dan Malaysia, seperti omongan beliau, Indonesia dan Malaysia sebenarnya hampir tidak memiliki perbedaan atau yang beliau sebut sebagai artificial difference hanya karena dijajah oleh Negara berbeda, sehingga menjadikannya ada sedikit perbedaan. Beliau juga tidak memungkiri kalau hubungan kedua Negara sedang ‘hangat’, akan tetapi sejak dahulu baik pemerintah Indonesia maupun Malaysia selalu tetap berhubungan baik. Beliau juga menyampaikan kalau sebenarnya Indonesia memiliki potensi untuk menjadi Negara besar. Beliau juga menekankan perbedaan western democracy dan ASEAN democracy, western democracy fokusnya adalah invidual interest yang sangat tabu jka diterapkan secara mentah di ASEAN yang menerapkan society interest. Di sesi tanya jawab Tun Mahathir ditanya oleh seorang peserta tentang apa tanggapannya tehadap gelar yang diberikan kepadanya sebagai ‘ little Soekarno’. Beliau rupanya agak geli menjawab pertanyaan itu, kata beliau mungkin saja ada faktor- faktor yang sama dimiliki oleh Soekarno maupun Tun Mahathir, tapi Tun juga mengingatkan kalau julukan itu tidak sepenuhnya benar karena dulu Soekarno pernah melawan Malaysia dalam gerakan ‘Ganyang Malaysia’ jadi mereka berdua tidak mirip secara total.

Setelah sesi break, giliran Dr. Nasir Tamara memberikan pidatonya, Dr. Nasir yang seorang social scientist kini beliau menjadi dosen di Singapura. Dalam pidatonya beliau menguraikan poin- poin penting dari buku yang telah ditulisnya, Rising Indonesia. Dalam perkiraan Dr. Nasir, pada 2040 Indonesia akan menjadi Negara terkaya nomer- 7 di dunia. Salah satu indikasinya adalah masuknya Indonesia dalam anggota G-20. Namun itu saja tidaklah cukup beberapa prasyarat juga harus terpenuhi apabila Indonesia ingin mencapainya yaitu sifat cinta bangsa, kerja keras dan tentunya kebijakan ekonomi yang tepat. Menurutnya, Indonesia akan mencapai puncak tersebut seirama dengan bagaimana India mencapai puncaknya. Keadaan geografis yang mirip, dengan tingkat kepadatan penduduk dan perataan kesejahteraan maka India adalah contoh yang paling sesuai jika ingin dicari perbandingannya.

Sesi break kedua tiba waktunya. Kami tanpa basa- basi menuju meja hidangan, ada coffee break plus makan siang, komplit. Satu jam kita menikmati masakan padang yang disediakan, setelah itu shalat dhuhur dan kembali lagi ke seminar hall untuk mendengarkan doktor pangkat empat kita berorasi, Dr. Ken. Beliau adalah pembicara yang ditunggu- tunggu sebenarnya oleh peserta seminar, terbukti meskipun hari sudah siang, namun peserta tidak ada yang meninggalkan acara. Dr. Ken muncul dengan perawakannya yang kecil, beliau tidak Nampak kalau mempunyai 4 gelar doktor, ditambah lagi dengan logat jawanya yang kental khas Suroboyo semakin ‘diragukan’ kedoktorannya. “ saya di depan sini akan mencoba berbicara dengan hati”, kalimat permulaannnya. Setelah itu kalimat demi kalimat mengalir dari Dr4 itu, beliau menceritakan perjuangannya pada masa kecil, sehingga beliau bisa mengambil S1 di jepang, meskipun saat S1 dia sudah berumur 27 tahun, tapi tetap tidak menghalanginya untuk maju.

Dr4. Ken Kawan Soetanto


Dr.Ken bagi saya adalah sosok guru yang saya dambakan, beliau dengan semangat ingin mendobrak jiwa- jiwa lemah para pelajar sehingga mereka bisa lebih terbuka terhadap apa yang mereka inginkan. Itulah yang beliau lakukan terhadap mahasiswa- mahasiswa di universitas Waseda, Tokyo, yang pada awalnya hanyalah kumpulan anak- anak tanpa semangat yang duduk di bangku kuliah, namun sekarang Dr. Ken telah mendobrak alam bawah sadar para mahasiswa yang sedang terombang- ambing dan menyadarkan mereka kembali bahwa seseorang harus mempunyai goal dalam hidupnya dan menyadarkan mereka bahwa tujuan kita para mahasiswa, harus kita tempuh secara sadar (Conscious) dalam arti kita faham betul apa yang kita mau, apa yang kita perlukan dan kemana kita akan menuju, itulah yang akhirnya tekenal di seantero jepang sebagai ‘Soetanto Effect’. Menurut beliau ada 4 macam tipe guru


- Guru yang Biasa, mengajar
- Guru yang Baik, menjelaskan
- Guru yang Lebih, mempraktekkan
- Guru yang paling Hebat, menginspirasi








Tuesday, December 22, 2009

Unexpected...

Setelah selesai pamitan aku menuju ke stasiun kereta. Jam menunjukkan pukul 22.15 ketika aku sampai stasiun komuter (Keretapi). Aku lihat papan pengumuman kalo kereta selanjutnya datang jam 23.00, masyaAllah nunggu lama ini pikirku. Barusan mengeluh karena harus nunggu kereta 45 menit ke depan tiba2 pengeras suara bunyi,

" Kepada seluruh calon penumpang train jurusan Rawang (jurusanku) diberitahukan bahwa kereta akan mengalami keterlambatan, harap maklum".
Otak sudah memerintahku untuk mengeluarkan kalimat2 emosional khas AREMA. Apa ini pikirku? barusan aku mengeluh karena masi harus nunggu lama untuk nunggu kereta eh, malah keretanya ditunda. ckckck,,,melengos.. sambil menahan emosi. Aku perhatikan terus papan yang menunjukkan perkiraan kedatangan kereta . Apa-apaan ini! semakin waktu bertambah, semakin panjang penundaannya. setiap tiga menit, waktu penundaan bertambah 2 menit.
“hargghghghghgh!!!! stkakoijt8g ksnuissiuhrioe!YGY&&*^*&^&*^*%!@$^!!!!!!!telo!” (Gak jelas to,ya gitu emang rasanya)



Sekarang papan bilang kalo kereta akan datang jam 23.18. Aku putus asa malam ini bisa sampai rumah, saat itu pukul 23.00 ketika corong- tua- pengeras- suara mengumumkan,
"Karena pembatalan kereta sebelumnya maka waktu kedatangan tertunda"
sampai kalimat itu aku masih bersabar, tapi setelah pengumuman
" keretea terkhir menuju rawang saat ini masih berada di stasiun Seremban dan akan tiba SEGERA dalam waktu EMPAT PULUH MENIT",

Hachiu,,,Kepong itu stasiun paling ujung dan kalo kereta gak telat itu memakan waktu 40 menit sampai ke stasiun ini GRGRGRGJRHGRHGHRGHRG!! emosiku memuncak, gak tau mau apa aku langsung berdiri dan jalan ke ujung plaform dan dapet satu kursi panjang yang masih kosong, sambil melengos aku banting badan di atas kursi itu tanpa peduli. Tidur.

15 menit kemudian aku masih dalam posisi yang sama mencoba untuk tidur tapi gak bisa. Ada suara berisik di sampingku tiga orang india lagi ngobrol, pake mikrofon mungkin ngobrolnya, ngganggu banget.
Pukul 23.25 lagi2 si corong teriak2
" kereta menuju rawang sudah tiba di stesen nilai". Seolah- olah udah deket aja stasiun nilainya, padahal kira2 5 stasiun lagi.
Pukul 23.57 keretapun datang, dari kejauhan aku bisa liat lampunya, saat itu juga si corong koar2 lagi, aku pikir kalo sampai kereta ini dibatalkan lagi, aku bakal...bakal...ngapain ya? yang jelas akan nunggu kereta lain lagi soalnya itu satu2nya transport pulang ke rumah. hehe. corong menginfokan kali ini dengan nada sedikit ramah, "Penumpang kami yang setia, kereta terakhir menuju rawang akan tiba dalam waktu sebentar lagi",
Apaan nih pikirku gitu aja diinfoin dia kira kita gak bisa liat kereta yang udah di depan mata begini? atau mungkin dia cuma ingin menghibur penumpang aja setelah info2 yang dia teriakin sebelumnya selalu bersifat kabar buruk terus.

Sebenernya perjalananku belum selesai soalnya mesti turun di stasiun tasik selatan dan ganti kereta lagi, tapi gak apa itu urusan nanti pikirku kalo udah nyampe sana. Jam saat itu 00.15 ketika aku sampai stasiun interchange tasik selatan. aku turun dari kereta KTM dan menuju ke pertukaran kereta LRT untuk pulang ke rumah. Bener aja apa yang aku khawatirkan, LRT-nya tutup. Untung sejak awal tadi otak ini sudah diset untuk kemungkinan terburuk, jadi gak kaget dalam keadaan macam ini.

EMMH. Yang aku tau teorinya, solusi dari keadaan kritis adalah pikiran tenang, bukan sok cool tapi mikir. aku coba tenang, cari jalan lain. aku ke arah perhentian taxi. aku dengerin tawar- menawar sopir dengan calon penumpang, yang sopirnya udah kalap minta dinaikin harganya plus pajak midnight driving sedangkan calon penumpangnya juga kalap, habis emosi nunggu kereta KTM masih diplonco lagi sama sopir taksi. Aku denger orang dari benua afrika lagi tawar menawar ama sopir taxi.

"twenty”, kata si sopir

Dijawab sama bule afrika, "what twenty? are you joking man?" tanpa rasa bersalah si bule afrika ini bilang "we want, ten".

Dalam hati aslinya ngakak juga aku, gak taunya bule afrika ini mentalnya sama kaya orang indo, 'kalo mau beli sesuatu ditawar dulu, penawaran pertama separuh harga'.DUONG! si sopir njawab "Hoi, this is midnight bro, to get your place in working hours itself taking eleven ringgit, how come you want ten at midnight?" Sambil ngakak dia
hwakakak tambah mules aku denger jawaban si sopir ni.

"Oke 15", kata si bule afrika, disambut jawaban "NONONONO...." si sopir.
Terus si sopir ninggalin tuh calon penumpang dan nawarin penumpang lain buat naik, strategi lawas penjual emang gitu pura- pura gak butuh kalo udah di posisi bagus. Bukan cuman sopir aja yang dalam posisi bagus, aku pikir ini juga kesempatan bagus buatku, kalo dipikir gak mungkin ke tempatku naik taksi sendirian, midnight lagi, pasti gak mood waktu bayanya ntar. 20RM bayangin alias 60ribu ru-pi-ah, lagian uang di kantong ada 10RM saja.

Dengan tampang kaya sales aku datengin bule afrika, "He, Guys, where are u going?" mereka jawab, "we are going to Bukit Jalil",
ah serius pikirku gak yakin, soalnya aku juga tinggal di bukit jalil.

"How much they charge you, and how many of you?", aku interogasi.
"twenty rm and three of us" kata mereka,
Gak ada angin tiba- tiba temen si bule nanya ke aku "oke bro how much you charge us?"
Apa?! aku dikira sopir taksi juga yang lagi nawarin dia. Waduh repot ini,

" No, i'm not going to charge you, i'm not a taxi driver. i'm going to BUkit Jalil also, and do you mind to make it four?" dengan hati melas tapi muka disangar2in aku tawarin mereka kita naik taxi berempat biar gak berat2 amat dan bisa mood waktu bayar taksinya entar,hehe.
Nampaknya mereka setuju,

"Driver, we take 20 to bukit jalil" kata salah satu bule itu. si sopir yang lagi nawarin ke orang lain masih pura2 gak butuh bilang ke yang lagi ditawarin, ‘kalo gak mau 25 yaudah aku ambil nih bule2’. gak lama kita udah di dalem taksi. Aku keluarin duit sepuluh ringgit aku kasihin ke bule disampingku,"Bro, do u have changes?",ana minta kembalian soalnya janjiannya kan bayar 5RM seorang. Tapi dia bilang entar aja kalo udah sampai baru bayar,oke kalo gitu terserah. Aku rilekskan susunan tulang belakangku di kursi taksi, Alhamdulillah... pikirku, akhirnya yang aku tahu, malam itu gak sampai berakhir di trotoar atau serambi masjid, dan satu lagi, ternyata banyak jalan menuju bukit jalil.

Sopir taksi kami mengutak- atik tape taksi, kayanya lagi nyari lagu yang pas ama dia dan gak lama kayanya dia dapet lagu yang cocok. Aku lupa lagunya siapa yang aku inget yang nyanyi cewek mungkin kalo gak Mariah carrey berarti Jim Carrey. Udah ngerasa lagunya cocok si sopir rileks ke kursi kemudi sambil gedein suara radionya. Hanya selang beberapa detik setelah si sopir coba rileks, tiba2 suara radio itu jadi kecil kecil O0o...... sampe akhirnya gak kedengeran, dan disambut teriakan pak sopir
"What are you doing?!!", sambil mutar volume button tape untuk digedein lagi suaranya, ternyata yang bule yang di depan ngecilin suara radionya.

"I don't like this song, driver!", kata si bule afrika yang duduk di depan dan tanpa ragu dia kecilin lagi suara radionya.Ciuut.....O0o...kecil lagi suaranya sampai habis.

"What do you want?!!" sopir taksinya udah kalap.
Bule afrika sekenanya njawab "I hate this song!".

Wuih jawaban sekenanya tapi pasti, bakalan seru kalo kaya gini pikirku. si sopir yang gak tau diri dan penumpang yang blak2an ngomong kalau makanan ini mungkin kaya soto lamongan yang dikasih jeruk plus sambel dan dikecapi ABC, muaknyus. Ini bakalan panjang ceritanya. Si sopir sambil kalap tiba2 megeluarkan orasi singkat yang mungkin udah disiapkan textnya..???
" WHAT DO YOU WANT?! THIS IS MY CAB, I HAVE RIGHTS TO DO WHAT I WANT TO,IT'S MY PRIVILLAGE!"

Dahsyat!! pikirku nih sopir atau pengacara ya, atau mungkin bekas pengacara, atau memang pengacara tapi lagi cari sambilan, atau bisa juga pengacara habis di pecat, atau mungkin juga dia pernah kuliah di jurusan hukum??gak taulah. Dan..lanjut lagi orasinya
"THIS IS MY CAB AND IF YOU DONT LIKE, BETTER I DROP YOU HERE!".

Si sopir abis orasi terus kalap, ngancem mau nurunin kita di tengah2 setopan lampu merah, aduh pikirku kalo sampe kita diturunin jadi panjang cerita. Bule yang duduk depan kayaknya shock setelah dengerin orasi kemerdekaan Hak Asasi Sopir Taksi (HAST).
Bule yang duduk depan bilang, "Oke we drop here if you don't like." dan langsung buka pintu. Keluar. Semudah itu.

Dua bule yang duduk di sampingku kebingungan sama ulah sohibnya yang satu itu, mereka coba menahan emosi kawannya biar tetep di taksi,
"wait bro sit..sit.." Bule itu gak peduli lagi. Si sopir juga sebenernya kebingungan, tapi udah terlanjur ngusir dan orasi, kayanya berat untuk tiba2 memelas minta kita tetep di taksi.
Aku buka pintu belakang. "Let's go out". Aku keluar. Gak mbayar.

Di tengah lampu merah kita turun, untungnya lagi sepi cuman ada 4-5 mobil aja. Aku usulin mending kita cegat taksi di seberang jalan, kalo di seberang sana kayanya bakal dapet harga murah soalnya gak lewat lampu merah. Akhirnya kita jalan menuju hentian bus tempatnya 500 meter di depan kita. Di tengah2 perjalanan aku penasaran darimana asal usul bule afrika ini. Setelah ku tanya2 ternyata mereka orang nigeria dan aku tebak mereka pasti dari sebelah barat nigeria, tempat komunitas muslim, soalnya mereka pakai baju gamis. Lumayan sedikit tahu tentang afrika bisa buat pembicaraan tambah antusias. Sebaliknya mereka juga nanya dari mana asal usulku, aku jawab dengan INDONESIA, mereka agk kaget aku bilang dari indonesia, sedikit terkejut dan langsung ajak jabat tangan dan bilang assalaamualaikum brother. Wa'alaikumsalam....
Aku jadi teringat apa yang dikatakan seorang teman dari temanku, yang dia berasal dari nigeria. Dia pernah bilang kalau indonesia sangat dikenal di negara mereka, dia bilang mereka biasa mengenakan sarung buatan indonesia salah satunya ATLAS. Selain itu mereka juga ternyata terbiasa mengenakan batik asli Indonesia, dan uniknya batik dianggap sesuatu yang sangat presticius di negara mereka. Mereka hanya mengenakan batik saat acara2 resmi seperti pernikahan dan batik dianggap sbagai simbol kebesaran.

Aku bilang ke bule yang tadi ribut sama sopir, kalo kita dapet taksi yang lebih murah, berarti keputusanmu tadi bagus. Kalo dapet yang lebih mahal aku mau bilang dia harus mbayarin tapi gak jadi.hehe. Kalo kita dapet lebih mahal berarti keputasnmu keliru. Aku usulin ke mereka kalo aku aja yang setop taksinya, biar nawarnya pake bahasa melayu biar dapet kortingan, mereka setuju aja.

Gak lama kira- kira sepuluh menit taksi pertama berhenti dan keliatan sopirnya orang melayu. Sip pikirku.
“Pak cik kita nak pergi Bukit Jalil berapa?”, (Bahasa melayu mode: ON)
“Midnight ni, bayarnya double meter, kalo meter 5RM bayarnya 10RM” kata pakcik sopir.
Aku tanyain ke bule- bule itu, mereka oke2 lagi. Langsung kita masuk satu persatu, aku yang terakhir. Pas masuk aku salamin pakcik sopir, “Assalaamualaikum pak”.
Pakciknya jawab panjang banget, “ Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Ta’aala Wa Barakaaatuuh.”
Si bule afrika sumringah mukanya pas tau sopirnya juga muslim.
Sepanjang Perjalanan aku ngobrol sama pakcik sopir. Eh gak taunya baik banget tuh pakcik. Dia malem itu mau kerja sampai jam 4 pagi, berarti masih 2 jam lagi.

“Oh ya pakcik esok hari ada ceramah akbar di masjid KLCC, pengisinya ustad dari Indonesia?”, Hari sebelumnya aku dapet kabar kalo Ustad Arifin Ilham mau ngisi acara di masjid KLCC tanggal 25 oktober.
“Oh ya kah, nampaknya tak bisa pakcik, kelurga pakcik mau datang siang ini.” Jawab Pakcik sopir.
“Oke takpe lah pakcik , eh Pakcik kalo kita turun dulu deket tempat saya di taman sri endah terus pakcik antar bule- bule ini pulang bisa tak?”aku coba ngelobi pakcik biar dianter sampe depan rumah.hueheh. Soalnya aku beda rumah sama bule- bule itu.

“Wah jauh tu, lain harga lah.”, kata pakcik
Aduh kalo lain harga ya mending gak usah lah pikirku, akhirnya aku minta turun di jalan yang misahin arah kami, deket carrefour.Si bule afrika mau ke Arena green, jadi aku kudu jalan dikit. Gak masalah.
“ Bro, this is 10RM do you have changes?” aku mau bayar nih sesuai perjanjian, tapi meter taksi masih nunjukin angka 5.4RM berarti bayarnya total masi 10RM lebih dikit, gak semahal taksi yang sopirnya alumni fakultas hukum itu tadi. Waktu ana mau bayar lha kok brothers-bule-moslem-dari nigeria itu nolak. Gak usah bayar bro katanya.Lah.!? terus piye? Gak masalah, kami yang bayarin kata mereka. Oke kalau gitu terserah aku gak bisa maksa.:-). Kamipun jabat tangan kenalan nama lagi biar inget dan sampai jumpa di kampus kapan- kapan.

” Makasih pakcik driver, Wassalaamualaikum!” kata- kata perpisahanku.


Saturday, December 12, 2009

Learning through writing

Mmh...enaknya nulis apa ya? Sudah lama gak di rawat ni blognya..
Terserah, kan ente yang mau nulis?
iya,,, makannya ana nanya kira- kira nulis apa?
ya udah nulis apa aja yang penting bisa nambah pengalaman dan bermanfaat buat orang lain..
oh gitu ya..okok
......
bentar...
......
......
Tapi apa ya? (telo mode: ON)

Diskusi di atas bukan

diskusiku dengan Raditya si kambingjantan atau Andrea Hirata atau parah lagi sama JK.Rowling,, diskusi itu antara aku dengan aku.maksute? dia teman diskusiku paling setia. gini,,,kita sering bertanya2 kenapa nggak dapat ide untuk menulis sesuatu atau berbuat sesuatu ketika berada dalam kondisi apapun yang memerlukan sebuah pertimbangan dan perhitungan matang itu juga yang sedang aku hadapi. Dalam kondisi itu diskusi antara 'aku dan aku' pasti akan terjadi sekalipun hanya dalam benak kita yang mungkin tidak sempat kita tuliskan karena seringnya diskusi antara 'aku dan aku' yaitu diskusi antara kita dengan diri sendiri.

Dalam diskusi tersebut yang sangat bisa mempengaruhi hasil akhir adalah diri kita sendiri, tanpa ada gangguan dari pihak luar karena... gak ada yang tau tentunya. Diskusi dengan diri sendiri menjadi kunci dominan yang akan diekspresikan lewat perkataan, perbuatan ataupun kebiasaan sehingga memunculkan suatu bentuk yaitu kita sendiri atau lebih tepatnya nilai identik kita (wah apaan tu? asal aja nulisnya). Hasil diskusi dengan diri kita bisa disebut bagus atau efektif jika kita tau apa tujuan kita, kemana tujuan kita dan sebelum itu semua, siapa kita.

Ketika kita berdiskusi dengan kawan atau teman atau mahluk apapun itu tentunya kita harus menguasai materi yang kita diskusikan meskipun, diskusi itu hanya obrolan tentang sepak bola atau siaran spongebob semalam kita tetap perlu penguasaan materi( materi spongebob???). Muncul pertanyaan materi apa yang kita perlukan untuk berdiskusi dengan diri kita sendiri?

Hal pertama yang harus kita fahami yaitu siapa kita? Saya ambil contoh seseorang, sebut namanya Hanif (namaku sendiri...:-) dia seorang pelajar jurusan teknik yang ingin jadi ahli robotik dan dengan statusnya itu sekarang jadi pelajar di jurusan teknik, sebagai seorang pelajar teknik dia harus memfokuskan segala perhatian dan waktu sesuai bidang yang diinginkan. Oke? done!,,,

siapa lagi saya? oh aku juga seorang kawan. karena aku juga bagian dari komunitas tentu aku harus tahu materi tentang komunitasku saat ini ( Ex: APIIT,UCTI,PPI dan apa ya?....TKI mungkin :-). Semakin banyak kita tahu tentang komunitas dimana kita berada, kita akan semakin memahami diskusi- diskusi yang terjadi berkenaan dengannya. Usaha kita memahami lingkungan sekitar adalah proses pembelajaran dan hal terpenting dari suatu pembelajaran yaitu keterbukaan pikiran dan kerendah- hatian kita yang aku pikir sulit sekali untuk dilakukan. Selain godaan dari luar, godaan itu juga datang dari dalam diri sendiri. Tapi, gak masalah, selama kita masih punya pikiran yang terbuka dan mau selalu belajar dan berdoa kita akan semakin faham atas peristiwa2 yang terjadi di sekitar komunitas kita dan dengannya kita semakin tahu siapa diri kita dan akan kemana tujuan kita.

Aku habisi dulu tulisan ini,,, coba kita list down dulu, siapa saja diri kita ini sebenarnya biar kita lebih memahami tujuan kita sebenarnya buat modal kita berdiskusi dengan diri sendiri untuk menentukan prioritas tujuan kita.