Friday, March 18, 2011

UNTU, Get your nature back!

Photo: UNTU fanpage ( Laqqi Fidel Jauhari)
Text: Hanif                                                                             




  
UNTU is what he named his newly- born clothing company meaning as TEETH in English. Fadli Machda, the founder, put that name is not simply without reason. He said UNTU is part of our life and always be till the time it starts to drop off. What he aimed with these teeth stuff philosophy is we need to take care of the clothes as much as we take care our teeth. Sounds strong enough? No, not yet. Another philosophy that might be underlying UNTU concept is that in the daily life, teeth representing bravery, strength, ideas and freedom. If you were to say ‘show your teeth’ it could mean you need to speak up your voice and dare to face whatever obstacle ahead your way.

By doing so, you will get your full freedom and get your selves 100% under your own control. This is what the message I can capture from this approximately two years old clothing company. I can find proof from their design and wordings on the clothes such ‘Just be who you are’, it might be for some people reminds them about how they should be doing in daily life and that they can not lose their goal, motivation and not  to lose their freedom. 

For such reason, UNTU has been trying to build brand awareness to convey this message to the people of the world. Sounds exaggerating? Well absolutely no. It has been twice UNTU shows up their teeth to UCTI student. It came down to booth with its icon a table-size molar tooth to attract people attention and they’ve made some moves with the brand awareness stuff. UNTU held an open competition to anybody in campus to give their best-freaking smile they’ve ever had and take a photo with the icon. The competition was titled ‘Show Your UNTU’ encouraging people to show their best.

UNTU have also held a competition to design clothes and the best of them will be made as the cloth design. UNTU have received awards as the best booth in the BIZZ BUZZ week held by campus, a week with all business activity happening, week when UCTI campus was more looking like markets than a university. So if you wanted to find UNTU in the booth, just look for the icon, a big molar tooth with eyes and its own teeth. Watch out!

And for having your own UNTU clothes, 
Do order here!  { UNTU FANS PAGE}



The icon, table sized molar tooth

 
UNTU booth with distinct design

Around the world competition participants

 CEO of UNTU (right) and classmate receiving awards

Monday, March 7, 2011

IKMAS Malaysia, What's next?

Text: Hanif
Foto: IKMAS                        




Bismillahirrahmanirrahim
Nggak terasa sudah hampir dua bulan dari postingan terakhir, sampai saat ini nggak sempet otak – atik nyobinulis. Alasannya masih klasik, terlalu banyak kegiatan. Padahal saat nulis ini suasana jauh lebih genting dari sebelum- sebelumnya, dari exam yang udah deket, masih lagi ada 2 tugas yang harus terkumpul ditambah dua presentasi harus dilalui dan sederet jadwal exam yang sudah menunggu. Alhamdulillah, meskipun kegiatan menulis ini vakum, bukan berarti aktifitas sehari- hari juga ikut terbengkalai. Banyak kegiatan dan cerita menarik sebenernya, tapi sudah terlewat untuk diceritakan ulang.

Yang paling gres kemarin tentu saja reuni alumni Assalaam boarding school dengan menghadirkan direktur Assalaam dan kepala sekolah SMK Assalaam. Menghadirkan? Oh bukan, Lebih tepatnya beliau datang karena ada undangan dari DIKNAS sebagai kepala sekolah terbaik dan berhak untuk ikut studi banding di Singapore- Malaysia, nah moment itu nggak bisa dilewatkan oleh alumni- alumni Assalaam yang lagi studi di Malaysia untuk menyambung silaturrahim dengan anggota IKMAS yang lain dan tentunya dua ustadz Pondok Assalaam.

 Hari Kamis siang awal kami bertemu dengan Ustad Ma’ruf, Direktur Assalaam dan Ustad Bambang, Kepala sekolah SMK yang waktu aku masih di Asslaam beliau sebagai kepala MTs. Euphoria langsung muncul begitu kami bertemu beliau berdua, aroma nostalgia masa SMP tiba- tiba hadir di benak kami, Ajib! Mungkin karena kehadiran beliau berdua yang saat kami di ma’had selalu mendominasi hari- hari kami. Ya, meskipun saat SMP kami melihat beliau berdua sebagai figur yang sebaiknya, kami enggak usah coba- coba cari masalah dengan beliau- beliau.

Kali ini kami melihat beliau berdua bukan lagi sebagai momok melainkan motivasi yang entah bagaimana dan kenapa itu bisa muncul bahkan beliau berdua ternyata lebih friendly dari dugaan kami. Tentunya kami tidak lagi bisa mengingat pelajaran apa yang telah beliau sampaikan dan nasihat- nasihat apa yang beliau pernah pesankan ataupun teguran- teguran keras macam apa yang sudah kami terima, ya kami lupa itu semua. Tapi yang perlu diketahui, itu mungkin karena nasihat- nasihat yang ustadz sampaikan tidak kami catat, tapi sudah kami wujudkan dalam bentuk aktifitas kami sehari- hari dan kemarahan- kemarahan ustadz sudah kami jadikan patokan bahwa apa yang saat itu kami lakukan adalah salah. InsyaAllah..

Mungkin tanpa jeweran- jeweran nasihat dan kemarahan beliau, kami tidak akan berada di situasi dan kondisi seperti ini. Semoga Allah mencurahkan segala rahmatNYA untuk ustadz dan bapak atau ibu guru kami yang lain atas apa yang telah antum nasihatkan pada kami dan kalau ada jeweran yang penuh hikmah, itulah jeweran nasihat dari ustadz- ustadz kami.

Untuk IKMAS Malaysia, sebaiknya dibuat kegiatan rutin yang kita lakukan dua bulan sekali paling minimal. Usulan dari ikhwan yang lulusan dari Mesir, di sana IKMAS sangat solid, silaturahim dijadikan tempat menyampaikan uneg- uneg dan permasalahan untuk dicari solusinya atau hanya sekedar acara kumpul sederhana dan sarat kekeluargaan dengan membahas permasalahan yang sedang hangat. IKMAS Mesir juga sudah biasa memunculkan ide bisnis yang menurut ustad Bambang modalnya adalah jaringan alias networking, bukan modal dengkul aja ternyata ya…hehe

This is not diary or diarrhea or whatever it called, I’m just asking, IKMAS Malaysia, What’s our next plan?




Masjid Putra, Putrajaya

Putrajaya Bridge

Firdaus, Farid Rifa'i, Ana, Fadli

IKMAS MALAYSIA


Thursday, January 6, 2011

KL Touring & Fenomena Gowes


Foto: Fadhli Machda & Laqqi Fidel Jauhari
Text: Hanif                                                                





Sesuai judulnya, kita lagi punya hobi baru, sepedaan atau disini tenar dengan istilah GOWES. Entah siapa yang memulai sejak dua bulan lalu sepeda pancal atau basikal di sini menjadi trend baru. Serentak dan merata sudah banyak yang memiliki sepeda. Buat saya sepeda memang hobi sejak masih kelas 5 SD, saat baru bisa naik sepeda, wah terlambat ya. Jagoanku saat itu sebuah BMX freestyle standard tanpa modifikasi, tapi sayang aku gak menyelami dunia freestyle alias ora iso nggaya. Setelah BMX tercinta tutup usia, beralihlah ke WimCycle mountain bike dengan transmisi Shimano 18 speed. Sepeda inilah yang menemani hari- hariku di SMA untuk PP ke rumah sekalipun jaraknya gak terlalu jauh.


Hobi baru di sini beda, jenis sepeda kita single speed fixed gear atau biasa disebut fixie, memang gak ada transmisi tapi ada torpedo yang berfungsi sebagai rem kalau di kayuh ke belakang. Kami melabeli hobi ini dengan ‘ green hobby’ berhubung istilah yang berbau ‘green’ lagi marak di dunia persilatan ini, siapa tau kan ada UNESCO, USAID, UNICEF atau NGO apapun itu yang bersedia mensponsori aktifitas kami di sini. haha. Karena sudah memiliki banyak anggota maka sudah selayaknya kami punya nama, ada usulan untuk dinamakan Budak Basikal Bukit Jalil, budak itu artinya anak. Tapi saya punya nama tersendiri buat grup ini yaitu BICYCLUB, bentuk slang dari bicycle.


Alhamdulillah liburan ini kami punya rencana touring ke KLCC pada malam hari di akhir Desember dan pada tanggal 29nya kita melakukan gladi bersih, alias mencoba dulu jalur yang menuju KLCC. Gladi bersih ini sendiri merupakan touring yang berat, pertama karena memang jarak yang cukup jauh dan kedua untuk menghindari jalan di kegelapan malam maka kita putuskan untuk memulai touring di pagi hari tepatnya setelah subuh, sebuah misi pagi buta dengan kepastian gagal 99% kalau tidak ada minat & niat yang ajaib dari teammate. Akhirnya surviving teammate terkumpul 6 orang, Wawan, Fadhli, Chrissy, Bram, Alwi dan Aku sendiri. Berangkat 2 jam setelah subuh, terlambat memang karena sebelumnya kita harus tune in sepeda di pom bensin dan aku juga harus mencopot kembali ban belakang karena setelah aku setel semalam belum sempat dicoba dan ternyata pas pagi harinya baru sadar kalau rantai belakang ternyata tidak pas di atas gear dan malah nyempil di antara as roda dan mur.wah.



Perjalanan yang diperkirakan memakan waktu 90 menit ternyata sanggup kami bereskan dalam waktu 45 menit, tepat saat itu kami berada di masjid KLCC setelah sebelumnya sempat foto- foto di depan kedubes Kuwait padahal rencananya foto di depan kedutaan Indonesia tapi sayang terlanjur diusir tukang parkir yang terhormat. Dari masjid KLCC kita menuju twin towers Petronas dan mencari view yang sekiranya bisa dijadikan korban untuk melakukan ‘narsistic act’ rombongan kami dengan background menara kembar, begitu kita yakin dapat tempat yang pas, lagi- lagi seorang security datang dengan wajah merah padam dan mata yang merem melek lebar- lebar menyuruh kami turun dan cepat- cepat enyah dari hadapannya.

Tidak putus asa, kami cari tempat lain di sekitar tower sampai akhirnya dapat tempat untuk memarkir sepeda dengan background papan iklan. Di tengah istirahat dan sedikit photo session dengan tim, sepeda yang kami parkir mendapat cobaan dan godaan, sepeda kami menjadi sasaran amuk massa oleh turis yang sedang lewat. Mereka gak rela ketinggalan kesempatan berfoto ria di atas sepeda kami. Jujur, sebagai mahasiswa berjiwa entrepreneur sebenernya sudah muncul ide kami untuk memungut biaya bagi siapa saja yang menyentuh sepeda kami, tapi sayangnya urung terlaksana karena turisnya keburu ngabur.

Setelah sesi foto- foto berhubung kita sudah di KLCC yang letaknya tidak begitu jauh dari Kampung Baru, pusat jajanan khas Indonesia, maka kita putuskan untuk wisata kuliner di sana tepatnya di restoran padang Garuda. Meskipun disuguhi makanan yang memuaskan tapi harga yang disajikan sangat tidak sesuai dengan kantong kami, pelajar di rantauan. Beranjak siang kami susuri jalanan pulang melalui Chow kit, Pasar Seni, KL Sentral, Mid Valley dan kembali ke singgasana Bukit Jalil.

Alhamdulillah, tanggal 31 Desember kemarin, kami memulai tour yang sebenarnya. perjalanan menuju KLCC bersama rombongan yang lebih banyak, 10 orang. Selain yang ikut gladi bersih hari sebelumnya ditambah 4 orang pendatang lagi Cumba, Laqqi, Maliq dan Alif. Rute kita tidak jauh beda dengan yang sudah di lewati saat gladi bersih hanya saja yang beda, kita bisa berfoto di depan KBRI berhubung saat itu malam hari dan tukang parkir yang terhormat sudah kembali ke singgasananya dan juga kita tidak lagi makan di restoran yang harganya bukan selera pelajar tapi pindah tepat di depannya, meskipun hanya berjarak beberapa meter tapi selisih harga mencapai separuhnya, walhasil ini.

Koleksi foto- foto touring kami malam itu juga bertambah banyak dan semakin berkualitas dengan ikutnya pujangga fotografi. Oh ya kenyataan soal fotografi sementara ini masih menjadi mimpi buatku, bukankah kebanyakan dari kenyataan yang ada harus diawali oleh sebuah mimpi? Foto- foto unik banyak dihasilkan dari bidikan fotografer Laqqi menggunakan kamera yang sudah dioprek dan ‘otaknya sudah diganti’, begitu menurut si empunya. Kamera tersebut sanggup menghasilkan gambar- gambar dengan paduan warna dalam gelombang frekwensi infra merah. Warna cahaya yang muncul tidak terlalu berwarna dan juga bukan warna- warna sembarangan yang dapat ditangkap oleh mata telanjang manusia kecuali dengan menggunakan sensor infra merah. masih menurutnya juga, aliran fotografi dengan sensor infrared adalah seni tersendiri dan biasanya dipakai oleh fotografer yang sudah bosan dengan komposisi warna yang natural, normal dan itu- itu saja. Ajib bukan?

The twins di Embassy Kuwait

Pose di Masjid KLCC

Turis dalam amuk massa

Dataran Merdeka




31 Desember, diambil dengan kamera infra merah
Tune in sebelum memulai gowes

Pose dulu di KBRI

Hasil foto berlatar belakang KLCC

Night Riders

Waktu istirahat

Thanks to All teammates. Semuanya baru awal, teman- teman. Ditunggu planning selanjutnya!!

Thursday, December 30, 2010

Puncak Mahameru, 3676 mdpl

Foto: Dwi Qaqa
Text: Hanif                                      






Puncak 3676 mdpl


Pagi hari adalah saat yang kami tunggu- tunggu, bagaimana tidak, suasana kabut turun berpacu dengan instesitas kecil cahaya matahari berlomba menuju air danau merefleksikan keindahan alam dibalut pencahayaan sempurna yang tidak ada fotografer mampu menghasilkan lightning semacam itu, Subhanallah  sangat menawan. Agak siangan kami memenuhi hajat perut lagi dengan mi instant dan Kopi Singa yang membuat kami sangat fresh dan bersemangat menaklukkan tanjakan Cinta, trek menanjak pertama pendakian menuju Kalimati.

Pukul 9 kami memulai perjalanan ke kalimati tapi sayangnya seorang dari kami tidak bisa melanjutkan pendakian. Selama pendakian kami memperoleh banyak sekali pelajaran secara tidak langsung seperti saat mendaki menuju Ranukumbolo,karena trek yang sempit dan saat grup kami berpapasan dengan grup yang mau turun, maka selalu kami yang di dahulukan lewat mungkin itu aturan tidak tertulis di antara pendaki, mendahulukan yang naik. Itu pula yang kami lakukan nantinya ketika turun, kami mencoba mendahulukan yang naik.

Perjalanan menuju Kalimati tidak seberat yang pertama, banyak trek pendakian yang agak landau. Sepanjang perjalanan kami disuguhi berbagai macam relief pemandangan yang luar biasa indah sampai- sampai menggetarkan jiwa raga dan akal sehat. Buh. Kami disuguhi pemandangan Oro- oro Ombo semacam padang rumput dengan tumbuhan setinggi satu setengah meter dengan bunga berwarna ungu, saya tebak itu tanaman lavender yang ampuh mencegah serangan nyamuk, tapi tidak ada yang membetulkan atau menyalahkan tebakan saya, dan padang ini juga yang menjadi saksi hidup narsisty-act grup kami. Setelah itu kami beristirahat sejenak di Pos Jambangan bersama grup lain.

Oro- oro Ombo

Setibanya di titik akhir pos Jambangan kami kembali disuguhi trek menanjak yang melelahkan, di balik bukit inilah tujuan kami Kalimati. Menurut informasi yang saya dapat Kalimati merupakan aliran lahar saat terjadi letusan, saat tidak teraliri lahar trek itu tampak seperti sungai mati atau dalam bahasa jawa disebut Kalimati.
Rehat di Pos Jambangan

Dengan bobot carrier yang sama berat seperti pendakian awal, ditambah lagi wajib membawa persediaan air yang banyak karena tidak ada lagi sumber air terdekat selain di Ranukumbolo perjalanan semakin memiliki taste. Sekitar pukul tiga sore, kami telah keluar dari hutan, dan lagi- lagi disuguhi padang rerumputan, Kalimati. Gugusan bunga berwarna kekuningan berderet di hadapan kami. Begitu grup kami ada yang berseloroh, “Edelweiss nih” saya baru tersadar, di sinilah bunga abadi itu hidup, Luar Biasa.

Aku mencoba mengagumi bunga itu secara mikro, lebih detil untuk mengetahui letak keindahannya dan ternyata luar biasa! tidak ada yang istimewa dan bunganya biasa- biasa saja. Laah. Entah kenapa banyak yang menginginkannya untuk dibawa pulang, selain memang dilarang dipetik, aku nggak   menemukan letak keindahannya secara individu. Setelah berjalan melewati gugusan bunga abadi dan sampai di ujung kalimati aku baru bisa menemukan satu hal yang memang luar biasa dari tempatku berdiri, gugusan edelweiss ternyata tampak indah jika dilihat secara landscape, menyuguhkan deretan gradasi warna kekuningan yang menyejukkan.

Terkapar di Pos Kalimati


Dari pos Kalimati, kami berencana langsung melanjutkan perjalanan ke Arcopodo, titik terdekat dengan puncak dan terdapat spot yang pas untuk mendirikan tenda. Setelah diserang hujan lebat, sekitar pukul 5 kami mulai perjalanan ke Arcopodo. Trek yang berat dan ditambah dengan sisa hujan lebat plus kebagian jatah membawa tenda membuat sore itu menjadi completely hard. Alhamdulillah kami bisa sampai ke Arcopodo setelah menempuh sekitar dua setengah jam pendakian dan langsung cari spot untuk mendirikan tenda. Malam itu demi kondisi fit ketika naik ke puncak tengah malam nanti, kami benar- benar makan besar dan sehat dengan menu nasi putih dan ikan sarden ditutup dengan Energen Jahe belum lagi masih dapet giliran dipijat dan tidur pulas. Maknyuss.

Suasana tenda bermalam di Arcopodo

Pukul satu tepat, kami  dibangunkan pendaki lain untuk persiapan mendaki dan setengah jam kemudian kami sudah siap memulai pendakian utama menuju puncak Mahameru. Setelah melalui sedikit trek tanah dan hutan kami disuguhi trek lurus tinggi dan menanjak. Trek utama ini bukan berupa tanah basah tapi campuran pasir dan batu yang rata- rata sebesar bola kaki. Berhati- hati kami mendaki trek terakhir ini, bagaimana tidak baru beberapa saat mendaki, rombongan di atas berteriak, “Batu! Batu!”, saat itu rasanya berada di titik nol gravitasi mengetahui ada batu sebesar kepala sapi menggelinding ke arah kami. Untungnya batu-kepala-sapi segera menggelinding ke luar trek utama dan jatuh di jurang 5 meter di samping kami.Fuhh.

Cukup berat jalur terakhir ini karena kemiringan dan komposisi trek yang membuat kaki sering ambles ke dalam pasir, Alhamdulillah, tepat pukul 6 pagi kami sampai di puncak Mahameru, deretan pegunungan di sekitarnya Nampak jelas. Gunung Putri Tidur nampak utuh, Arjuno, Bromo dan yang paling tinggi adalah tempat kami berpijak, titik 3676 meter di atas permukaan laut. Meskipun tidak bisa melihat sunrise karena tertutup awan kami tetap bersyukur bisa sampai puncak. Rasanya kami ingin kembali ke sana sekali lagi meskipun saat itu baru lima menit kami berada di puncak dan bahkan belum juga turun!! 



Memoriam Soe Hok Gie di Puncak Semeru



Trek menuju puncak yang berat


Perpulangan


Thanks to All my teammate for their support and
 thanks to nyobi_reader who kept themselves updated to this blog


Tuesday, November 30, 2010

UCTI Charity Concert Untuk Indonesia

Text: Hanif
Foto: Bima Wicak Prawiro          

UCTI Charity Concert For Indonesia

Musibah yang melanda Indonesia secara bertubi- tubi telah menggerakan hati sebagian rakyat Indonesia untuk berbuat sesuatu bagi Korban musibah. Tidak ingin ketinggalan dengan yang di dalam negeri, Persatuan Mahasiswa Indonesia di kampus APIIT/UCTI Malaysia mengelar Charity Consert, sebuah acara yang didedikasikan khusus untuk korban bencana alam di Indonesia, khususnya Mentawai dan Erupsi Merapi.

Acara ini diselenggarakan oleh AUISS (Organisasi pelajar Indonesia) yang dikemas dalam bentuk konser musik dan tarian kebudayaan Indonesia. Acara diawali dengan penampilan akustik yang dibawakan dua orang pelajar Indonesia dan dilanjutkan dengan penampilan 3 perwakilan mahasiswa Malaysia. Saya tertarik dengan konsep acara ini karena melibatkan mahasiswa dari berbagai macam Negara, Malaysia tak ketinggalan juga. Tarian Saman asal Aceh yang sudah menjadi ciri khas AUISS dalam berbagai event juga tak mau kalah dengan menampilkan tariannya seribu wajahnya. Banyak teman- teman mahasiswa dari lain negara yang terkagum dengan tarian ini, “ How could they do that?!”, salah satu ungkapan mereka yang melihat gerakan tari saman berselang seling, gerakan yang mampu mengakibatkan benturan kepala kalau- kalau pesertanya kurang terlatih. Tarian saman  yang memiliki gerakan seperti gelombang laut membuat beberapa dari mahasiswa malah menyebutnya wave dance.

Sekumpulan dosen kampus kami dan juga beberapa mahasiswa dari berbagai Negara membawakan lagu berbahasa Malaysia, saya kurang bisa menangkap makna lagunya secara persis, tapi kurang lebih lagu itu ingin menghapuskan segala bentuk perpecahan terutama di saat ada yang terkena musibah seperti saat ini dan sudah sewajibnya kita  bersatu. Saya jadi teringat beberapa saat setelah Tsunami terjadi di Mentawai pemerintah Malaysia langsung mengusulkan bantuan bagi korban tsunami. Tapi karena harus meminta izin ke Jakarta, maka bantuan yang disampaikan harus dilaporkan ke Jakarta dulu, dan untuk diketahui oleh pembaca bahwa setelah itu Malaysia sendiri juga mengalami musibah banjir besar di daerah Kedah yang membawa banyak korban jiwa dan puluhan ribu pengungsi.

Di akhir acara, ketua mahasiswa Indonesia memberikan piagam kepada perwakilan kampus secara simbolis, dan waktu untuk menyalurkan bantuan diperpanjang oleh vice-chancellor kampus sampai 2 Desember 2010. Dan menurut informasi dari seorang teman, bantuan hingga saat ini juga masih berdatangan dari perwakilan mahasiswa berbagai Negara seperti Iran, Kazakhstan dan Negara Mongol lainnya.


 Kue tradisioal untuk penggalangan dana




Booth bantuan

Akustik

Sumbangan terus mengalir

The hall

Vice chancellor

Akustik solo

Personel grup dari berbagai negara

Rapper di charity

Tari saman

Akustik oleh mahasiswa Indonesia

Saturday, November 27, 2010

MAHAMERU SUMMIT { II }

Foto: Dwi Qaqa
Text: Hanif                      





Ranukumbolo, perkampungan pendaki


Pukul satu siang kami tiba di Ranupani, di sini adalah pos Utama jalur pendakian semeru. Setelah mengurus perijinan mendaki, kami berenam memenuhi hajat perut masing- masing. Di Ranupani tersedia beberapa warung makan yang sepertinya sumber kehidupan satu- satunya dalam radius puluhan kilo meter selain persediaan makanan sendiri, dan mungkin optional, makanan penduduk setempat.

Tepat pukul 1.30 kami memulai langkah pertama menuju puncak mahameru, dengan masing- masing berbekal persediaan mi instant, kopi, air mineral 2 liter kami merasa sudah sangat pede untuk sampai ke puncak, bahkan langkah pertama kami rasakan sebagai langkah kami di puncak semeru, Mahameru! Kilometer pertama kami lalui tanpa halangan berarti karena trek yang paving stone kami jalan dengan semangat ’45 yang tak terhentikan.

 Kilometer kedua trek pendakian juga masih berupa batu paving, semangat ’45 juga masih terasa kental di antara kami sebelum kami bersama- sama secara perlahan tapi pasti mengalami kelelahan yang luar biasa di menit selanjutnya. Baru memasuki kilometer kedua, semangat ’45 yang tadinya masih kental, tiba- tiba saja larut tanpa permisi, otot- otot kami terasa gugup, dan pikiran melayang kembali ke Ranupani, jip, dan lanjut kembali ke Malang. Mustahil.

Kami nggak ingin ada cerita sebuah grup yang baru jalan 2 kilo tiba- tiba harus kembali karena kecapekan. Kalo di atas semeru sana terdapat banyak memoriam yang menunjukkan kegigihan seorang pendaki sampai harus mengorbankan nyawa, maka kami tidak ingin di titik kilometer 2 ini ada memoriam yang memperingati kami, yaitu serombongan bujangan berisi 6 kepala yang harus pulang ke rumah masing- masing karena kecapekan di KM 2!!. No Such a Thing, BOY.

Kami ambil napas panjang dan mengevaluasi problem yang hasilnya ternyata kelompok kami menderita semacam penyakit-kronik-akut-berbahaya-tak-terobati bagi seorang pendaki, penyakit kelebihan beban. Karena khawatir kehausan, kami membawa banyak air mineral, tapi justru di situ sumber masalahnya, kebanyakan air malah menguras tenaga kami. Maka kami putuskan untuk membuang sebagian air mineral, dan menyisakan secukupnya. Dengan sisa semangat ’45 yang sudah cair kami sampai ke pos pertama pendakian. Di pos ini, kami istirahat sebentar, meluruskan otot dan urat yang kaku karena shock sekaligus kami jama’ shalat Dhuhur dan Ashar.

Berangkat dari pos satu, tim kami terpisah menjadi dua grup. Tiga orang berangkat duluan mengikuti grup lain yang juga menuju Ranukumbolo. Aku di grup kedua, kami bertiga tanpa ada satupun yang berpengalaman dalam hal daki- mendaki menerobos trek pendakian sampai menjelang sore. Ketika hari mulai gelap, kami baru sampai di Pos 3, pos ini terkenal berat karena kondisi trek yang panjang dan kemiringannya mencapai 40 derajat. Gak heran kalau di pos ini banyak pendaki yang lebih memilih istirahat panjang sebelum menjajal trek setelah pos 3 ini. Kami lihat banyak pendaki yang sebenarnya memulai perjalanan sebelum kami, tapi kami susul di pos 3 ini. Tidak buat kelompok kecil kami, dengan harapan sampai ke Ranukumbolo lebih cepat dan bisa menyusul grup kami yang sudah nyangkut di grup pendaki lain, kelompokku masih membawa semangat ’45 yang agak lumer tadi menaiki jalur pos 3 tanpa istirahat! Ganass.

Kondisi semakin gelap, kami semakin berhati- hati, senter ABC Power warna biru yang aku beli di Indomaret ternyata sangat membantu. Rofiqul dan Dwi Qaqa pake headlamp, senter kecil dengan cahaya yang lumayan maknyus dilengkapi dengan fitur bisa ditempel di jidat masing- masing, jadi tangan bisa nganggur dan kalau terpeleset masih mungkin untuk cari pegangan, aku sendiri masih pakai senter biasa alhasil pas jatuh bangun, senter ABC-lah yang paling kasihan karena jadi tumpuan bobot Carrier.


Pendakian Malam


Kami ingat saat sekitar pukul 6 sore saat kami menemui tulisan Ranukumbolo 500 meter. Perasaan seneng, capek dan bingung menjadi satu gak karuan. Gimana gak bingung sudah hampir satu kilo dari tulisan tadi, kami masih belum juga sampai Ranukumbolo. Yang kami dapati malah pemandangan Ranukumbolo dari atas bukit. Jadi kami bertiga simpulkan tulisan tadi memberitahu kalau Ranukumbolo bakal terlihat sekilo kedepan, catat ya ‘terlihat’ bukan ‘terletak’. Dari posisi kita melihat Ranukumbolo aku perkirakan harus di tempuh satu jam lagi perjalanan. Kami segrup yang awalnya bersemangat ’45 agak lumer, sekarang menjadi lumpuh total. Akibat informasi yang kurang tepat, kami sudah terlalu girang untuk sampai ke Ranukumbolo, itulah yang membuat kami merasa lebih capek, sisa energi terkuras habis dalam kegirangan semu. Fatamorgana…

Diiringi bayangan bulan dan rancauan masing- masing, kami berjalan dengan sisa- sisa energi, sampai di satu titik kami merasa sudah dekat dengan Ranukumbolo, ada panggilan dari bawah, sekitar 500 meter dari kami, “PUL IPUL!”, sepertinya suara teman kami Bashori, salah satu yang nyangkut ke group lain memanggil Dwi qaqa dengan nicknamenya. Gak lama sekitar sepuluh menit, kami sudah sampai di bibir Ranukumbolo. Kami langsung rebah di tempat terdekat sedangkan temen- temen yang lain sibuk mendirikan tenda. Di antara kami berenam, 4 orang berasal dari ITS, Dwi Qaqa, Imam Bashori, Khoirudin Alfan, dan Unyil sedangkan Rofiq lulusan POLTEK Malang.

Malam indah itu kami tutup dengan sepiring mi instant dan Kopi Singa sambil berdecak mengagumi alam Ranukumbolo yang tidak tampak karena malam yang memang gelap.??




Ranukumbolo pagi



Tim menuju Kalimati

Ketua Rombongan





Segarnya Ranukumbolo